Twitter
RSS

WELCOME

Your PTC

PersianPTC.com

BANGSA DAN BAHASA ARAB

0
Tak perduli ras dan bahasa, menurut para sarjana dalam
segala bidang, penghuni jazirah Arab dinamakan bangsa Arab;
baik yang nomadic maupun yang sedentary. Para historicus
mencatat, sebagai hasil riset mereka, bahwa penghuni di
jazirah Arab ini dari zaman ke zaman disusul oleh
gelombang-gelombang anak suku, yang akhirnya melahirkan tiga
kelompok besar bangsa Arab, yaitu:

(1) "ARAB ARIBA" atau "BADIA" (Les Arabes Primaires) seperti
Kaum Ad, Tsamud, Amalik, Tasm, Bani Yadis, Kusyit dan
lain-lain.
(2) "ARAB MUTARRIBA" (Les Arabes Secondaires) seperti Bani
Kahtan, atau Yoktan bin Heber (catatan: Heber berasal dari
kata "Abra" atau "Ibra" yang berarti "orang seberang"), Bani
Himyar dan lain-lain.

(3) "ARAB MUSTA'RIBA" (Les Arabes Tertiaires) seperti
misalnya Keturunan dari Nabi Ismail bin Ibrahim a.s., antara
mana adalah suku-suku bangsa Koreisy pada kira-kira tahun
400 M.

Sebagaimana lazimnya di mana-mana, maka yang kuatlah
memerintah atas yang lemah. Demikianlah Bani Kahtan
menaklukkan kaum Ad. Kemudian Raja Khozar el-Ahmar, dalam
Kitab Perjanjian Lama KEDOR LAOMER, dari Elam menguasai kaum
Thamud yang berdiam di gua-gua. Raja Malik el-Sadik, dalam
Perjanjian Lama MELKHIZEDEK dari kaum Salem dan Jurhum dari
kaum Kahtan, kemudian lambat-laun dihirup oleh keturunan
dari Nabi Ismail a.s. Keturunan dari Nabi Ismail a.s. inilah
yang kemudian nyaris dibasmi oleh Bukhtanasr (NEBUKADNEZAR),
Raja dari Babylonia.

Demikianlah suatu sketsa singkat terjadinya bangsa Arab,
baik ethnic maupun linguistic.

LINGUA FRANCA DI BENUA ARAB
------------------------------------------------------------

Bahasa pergaulan dan bahasa pengantar di seluruh benua Arab,
yang merupakan lingua franca, adalah bahasa Aramiya
(ARAMAIC) yang hidup dan berkembang dalam aneka dialek.
Dikenal antara lain dialek Kildani, dielek Kanaanit, dialek
Funisia (PHOENICIAN), dialek Moabit, dialek Siryani (atau
Assyrian/Syrian), Syriac, Edomit dan lain-lain. Karenanya,
maka lambat laun cara menulisnya pun berkembang lain-lain
(gradual modification of the script).

ABRAM, yang tergolong Arab Mutaarriba, bermula tinggal di
kampung UR, wilayah Kildani, kini Iraq Selatan. Karenanya ia
berbahasa Aramiya dengan dialek Kildani. Pada lebih kurang
tahun 1.750 S.M. ia pergi hijrah (atas perintah Allah) ke
Kanaan, kini Palestina/Israel. Di sini ia bertemu dengan
kaum yang juga tergolong dalam rumpun Arab Mutaarriba,
tetapi berbahasa Aramiya dengan dialek Kanaanit. Orang-orang
Kanaan ini menamakan Abram dan pengikut-pengikutnya ABRAHAM
atau IBRAHIM, yang berarti "orang seberang." Hal ini
disebabkan tidak lain dan tidak bukan karena beliau
"menyeberangi" sungai El-Furat (EUPHRAT). Dari tesis ini
kiranya dapat ditarik suatu kesimpulan bahwasanya tidak ada
bahasa "orang seberang," atau lebih tegas lagi tidak ada
bahasa Ibrani (Hebrew); karena perkataan "Ibrani" ini
artinya "orang seberang" dalam bahasa Aramiya dialek
Kanaanit. Bahwa kemudian orang-orang seberang ini (dialek
Kildani) dalam proses perkembangan sejarah lambat-laun
menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang berdialek
Kanaanit, adalah suatu kewajaran.

GELAR MENANG ATAS NAMA ASELI
------------------------------------------------------------

Adalah suatu kenyataan bahwa nama gelaran yang dijuluki oleh
orang-orang Arab senantiasa menang atas nama aselinya.

Demikianlah diketahui bahwa keturunan Nabi Ya'kub a.s.
dinamakan Bani Israel, dan bukannya Bani Ya'kub. Lebih
terkenal nama Bani Koreisy dari pada nama aseli Fihr untuk
keturunannya. Selanjutnya nama-nama gelar Zulkifli,
Zulkarnain, Ashabil Fil, Ahl el-Kitab lebih terkenal dari
pada nama aseli mereka. Adalah menarik untuk ditambahkan di
sini bahwa nama-nama individuil seringkali berbentuk
theophorous.

Adapun Israel, gelaran yang diberikan untuk Nabi Ya'kub a.s.
berasal-usul dari suatu pertengkaran sengit antara dia
dengan saudara kembarnya Isu (ESAU). Untuk menyelamatkan
dirinya Ya'kub ber-"isra," yakni berjalan pada malam hari ke
negeri pamannya, Laban, di kampung Ur, di distrik Kildani,
Iraq. Karena berisra inilah keturunan Nabi Ya'kub a.s.
kemudian dinamakan Bani Israel, gelaran mana dikukuhkan
kembali dalam TORAH oleh Nabi Musa a.s.

EMIGRASI DARI SEMENANJUNG ARAB KE MESIR

0
Antara tahun 1700 sampai dengan 1550 S.M. negeri Mesir
dikuasai oleh anak suku HYKSOS, yang juga dikenal dengan
gelaran "Raja-raja Padang Pasir" atau "Raja-raja Gembala."
Anak suku Hyksos ini masuk dalam golongan ARIBA MUTARRIBA
yang berbahasa Aramiya dengan dialek Kanaanit. Ketika musim
kemarau yang terlampau lama melanda Kanaan, dua atau lebih
dari anak suku keturunan Ya'kub diizinkan oleh Raja Hyksos
untuk berhijrah ke delta sungai Nil (GOSYEN) yang subur.
Tidak mustahil bahwa kebaikan dari Raja Hyksos ini adalah
karena mereka sama-sama berasal dari Kanaan.
Tetapi ketika pada tahun 1550 S.M. timbul suatu
pemberontakan yang berhasil menggulingkan dinasti Hyksos,
seraya mengusir kaum Hyksos dari Mesir, maka saat itu
dicatat sebagai permulaan masa penderitaan bagi keturunan
dari suku-suku Bani Israel.

Walaupun keturunan suku-suku Bani Israel hidupnya ekslusif,
namun setelah mereka berdiam selama lebih kurang 500 tahun
di Gosyen, Mesir, maka bersatu-padulah (SYNCRETISME) dalam
banyak hal. Seperti nama-nama khas Mesir untuk nama
perorangan, percampuran adat-istiadat dan bahasa, hingga
boleh dikatakan terlupalah dialek asalnya, yakni dialek
Kanaanit.

Pada masa itulah Nabi Musa dilahirkan. Ia dipungut dari kali
NIL oleh seorang Puteri Firaun, kemudian diangkatnya sebagai
anak. Dengan demikian ia (Musa) dibesarkan, dididik dan
diajar di istana Fir'aun Rameses II. Sudah barang tentu Nabi
Musa terpengaruh oleh alam lingkungan istana. Tidak
diragukan lagi bahwa ia berfikir dan berbicara dalam bahasa
Koptik Kuna dan menulis dengan aksara hieroglyphe.

SEPULUH FIRMAN (DECALOGUE) DAN TAURAT

0
Akhirnya pada tahun 1230 S.M. Firaun Merneptah mengizinkan
Bani Israel, di bawah pimpinan Nabi Musa a.s. dan kakaknya
Nabi Harun a.s., ke luar meninggalkan Mesir. Oleh karena
Nabi Musa memang berfikir dan berbicara dalam bahasa Koptik
Kuna, dengan demikian tidak mahir menguasai bahasa awam Bani
Israel, maka atas dasar itulah ia dibantu oleh Nabi Harun
yang berbicara logat awam untuk mendampinginya dalam
memimpin Bani Israel ini. Pada tahun itulah, kedua loh yang
berisi kesepuluh firman diwahyukan kepada Musa selama 40
hari di puncak gunung Sinai.
Menjadi pertanyaan yang besar sekali, apakah kedua loh yang
berisikan Kesepuluh Firman itu ditulis dalam bahasa Ibrani
sebagaimana diaku-aku? Atas dasar analisa di atas, maka
tiada sangsi lagi bahwa kedua loh itu sudah pasti ditulis
dalam bahasa Koptik Kuna dengan menggunakan aksara
hieroglype dan bukannya dalam bahasa dan huruf Ibrani yang
memang tidak pernah ada. Pengakuan para theolog Nasara yang
menyatakan bahwa kedua loh batu yang aseli dan Nabi Musa
tidak akan diketemukan, kiranya memperkuat argumentasi di
atas tadi.

Nasib kedua loh yang mengandung Kesepuluh Firman yang
tersurat dalam Torah turut dibumi-ratakan dengan Heikal
Suleiman, di mana Torah itu disimpan di mihrabnya, oleh
tentara Raja Bukhtanasr pada tahun 586 SM.

Kemudian, kira-kira antara tahun 458-444 S.M., Kelima Kitab
Nabi Musa a.s. disusun kembali apa yang teringat oleh Uzair
(EZRA) dalam dialek Kildani. Salinan inilah yang disimpan di
mihrab Heikal Suleiman yang dibangun kembali oleh
Zerubbabel. Oleh karena pada masa-masa itu orang-orang di
Yerusalem sudah tidak mengerti lagi dialek Kildani, maka
senantiasa didampingi oleh seorang penterjemah (TARGUM atau
TARJUM) untuk menterjemahkannya ke dialek Kanaanit, satu
suku bahasa Aramiya. Nasib dari Torah yang disusun oleh
Uzair pun tidak mujur. Pada tahun 63 S.M. Panglima Pompeyus
dari Kekaisaran Romawi merebut Yerusalem. Ketika pada tahun
70 S.M. timbul pemberontakan terhadap kekuasaan Romawi, maka
Panglima Titus, putera Kaisar Verpasianus, membumiratakan
kembali Yerusalem serta membakar habis Heikel Suleiman serta
perpustakaan-sucinya, termasuk di antaranya Kitab Suci
tulisan Ezra.

ASAL-USUL NAMA YAHUDI (JEWS)

0
Kerajaan Bani Israel bagian Selatan bernama Yuda atau Yehuda
dan penghuninya dinamakan kaum Yahudi. (Kaum Yahudi inilah
yang dibolehkan kembali ke negeri asalnya dengan firman
Rajadiraja Persia Cyrus II, putera Cambyses, pada tahun 538
S.M.). Nama Yahudi kemudian tetap diperuntukkan kepada
mereka yang MENOLAK kenabian dari Isa Al-Masih Ibnu Maryam
dan Injil serta MENUDUH Siti Maryam sebagai perempuan
pelacur dan Al-Masih sebagai anak zina dan akhirnya BERMAKAR
untuk menyalibnya. Kaum Yahudi inilah (International Jewry)
yang dikutuk baik dalam Injil maupun di dalam Al-Qur'an.
Mereka yang percaya menamakan dirinya NASARA, yakni KRISTEN;
sedangkan mereka yang kemudian menyaksikan akan kebenaran
Al-Qur'an dan Nabi Muhammad disebut Muslimin.

Dalam Perjanjian Lama, Ibrani (Hebrew) disebut "lisan
Kanaan" atau Yehudit (Jewish). Istilah "Ibrit" dibuat oleh
para Rabbani Palestina, dan ini adalah transliterasi dari
kata Aramiya: "Ibray," yang kemudian menjadi "IBRANI"
(Hebrew).4
Antara tahun 132 135 M. timbul pemberontakan terhadap
kekuasaan Romawi di bawah pimpinan Bar Kozibah. Namun
pemberontakan kaum Yahudi ini dapat dipatahkan oleh tentara
Romawi. Sebagai hukuman, maka Kaisar Hadrianus melarang kaum
Yahudi memasuki kota Yerusalem (Colonia Aelia Capitolina).
Mulai saat itu maka kaum Yahudi mulai meninggalkan
Palestina, bertebaran dan terpencar ke seluruh pelosok
dunia. Namun karena fitnah dan khianat orang-orang Yahudi
ini diusir dari Hejaz pada tahun 627 M., dari Suria pada
tahun 890 M.; dari Portugal pada tahun 920 M., dari Spanyol
pada tahun 1110 M., dari Inggris pada tahun 1290 M., dari
Perancis pada tahun 1306 M., dari Belgia pada tahun 1370 M.,
dari Czechoslovakia pada tahun 1380 M., dari Belanda pada
tahun 1444 M., dari Rusia pada tahun 1510 M., dari Italia
pada tahun 1540 M., dan dari Jerman pada tahun 1551 M.

Dari sana mereka kemudian memilih Turki sebagai donme (atau
thinmah = menjadi warganegara Osmania-Turki yang menerima
perlindungan) dan membayar jizyah sebagai imbalan. Setelah
itu lalu mereka memasuki aneka negara sebagai pedagang dan
ahli fikir. Antara tahun 1898 dan 1905 mereka
menyelenggarakan beberapa Konperensi secara rahasia.

Keputusan yang dikeluarkan oleh Konperensi pada tahun 1905
hingga kini masih tersimpan di Perpustakaan British Museum.
Sementara itu selama abad ke XIX mereka menyusun suatu
bahasa yang mereka namakan bahasa "IBRANI" tetapi pada
hakekatnya tidak lain dari pada bahasa "ARAMIYA MODERN."

LAHIRNYA KITAB SUCI YAHUDI

0
Kitab Suci Yahudi yang kini dipergunakan adalah berdasarkan
atas teks MASSORAH. Renaissance dari Yudaisme baru timbul
ketika orang-orang Yahudi bebas menjalankan agamanya di
bawah kekuasaan Muslimin. Karenanya ulamanya tidak lagi
berbahasa Aramiya atau dialek Kildani, apalagi menulisnya,
mereka tidak dapat membaca aneka Kitab Sucinya. Oleh sebab
itu mereka hanya mengikuti tradisi lisan secara
turun-temurun.

Terpengaruh oleh peradaban, kebudayaan dan philology Arab,
para ulama Yahudi berkumpul untuk berusaha memelihara Kitab
Sucinya, yang diawali di Tiberias antara abad ke VI dan abad
ke IX, dengan mencoba-coba menghidupkan huruf-huruf mati dan
memberi titik-titik pada huruf yang bentuknya sama tetapi
ucapannya lain. Usaha ini diakhiri pada abad ke XI.
Terjemahan yang terbaru, yang dibantu oleh aneka saduran
yang terlebih dahulu dan musyawarah dengan ahli-ahli Yahudi,
ini digunakan baik oleh ORTODOX maupun REFORM JEWS yang
tersebar di seluruh dunia.
Setelah dibentuknya Persemakmuran Yang Kedua di bawah
pimpinan Ezra dan Nehemiah (lihat Kitab Nehemiah 8:8 dan
13:24), nyatalah betapa wajibnya TORAH itu ditafsir agar
semua orang dapat mengerti Kalam Tuhan. Para guru melihat
tafsiran ini sebagai sumber dari Tafsiran Aramiya Kuna yang
dikenal dengan nama TARGUM, yang semula disampaikan secara
lisan dan kemudian secara tertulis. Hal ini membuktikan
bahwa Bani Israel telah lupa akan bahasa Aramiya atau dialek
Kanaanit Kuna, yakni idiom yang digunakan di bagian besar
dari Asia Barat. Semua ini agak gelap seperti seluruh
sejarah Yahudi selama kekuasaan Persia (Iran).

Septuaginta, yakni terjemahan Greka (Yunani) adalah hasil
dari kontak Israil dengan peradaban Hellenistic yang
menguasai dunia pada masa itu; sedangkan terjemahan bahasa
Arab dilakukan oleh Gaon Saadya ketika banyak orang-orang
Yahudi berada di bawah kekuasaan Muslimin, dan terjemahan
Jerman dibuat oleh Mendelssohn dan madzhabnya pada permulaan
dari suatu zaman baru yang membawa orang-orang Yahudi ke
Eropa, di mana mereka itu berbicara suatu dialek Jerman,
yakni Yuddish.

Antara aneka terjemahan terdapat banyak keragu-raguan dan
perbedaan pendapat. Misalnya Philo dan orang-orang
Iskandariya, yang seagama dengannya melihat terjemahan
Septuaginta sebagai suatu karya dari lebih kurang 70 orang
yang diilhami, sedangkan para Rabbani Palestina berpendapat
bahwa Torah tidak dapat diterjemahkan. Ada cukup bukti bahwa
akibat dari aneka terjemahan itu kurang disukai, tetapi awam
terima saja dengan baik dari pada tidak faham sama sekali.

Perubahan terjadi selama dua generasi terakhir setelah
kontak dengan peradaban yang berbahasa Inggris. Para
penterjemah ke dalam bahasa Inggris, baik di U.S.A., maupun
di Inggris sendiri, ada banyak sekali. Dan tahun 1892-1901,
Jewish Publication Society of America membuat terjemahan
baru. Pada tahun 1908 badan tersebut bersama Central
Conference of American Rabbis mengeluarkan terjemahan lebih
baru di mana diperhatikan aneka saduran; baik yang baru
maupun yang kuna; teristimewa Septuaginta, saduran-saduran
dari Aquila, Symmachus dan Theodotion, Targum-Targum,
Pesyitta, Vulgata dan saduran Arab dan Saadya, juga
sindiran-sindiran dari tafsiran-tafsiran Yahudi dan para
ahli pada abad pertengahan. Pokoknya, Yahudi tidak mau
menerima interpretasi Kristen dan aneka terjemahan bukan
Yahudi (GOYIM) berada dalam Kitab Suci Yahudi, walaupun
mereka berhutang budi atas karya-karya terdahulu yang
dilaksanakan oleh Goyim, seperti oleh WYCLIFFE, TYNDALE,
COVERDALE dan sebagainya, sedangkan Vulgata, saduran Inggris
dan Douai, tetap digunakan orang-orang Katholik Romawi.

Adapun teks dan susunan Kitab-kitab Suci terjemahan, yang
sekarang menuruti tradisi Yahudi, terbagi atas tiga juz,
yakni:

1. HUKUM (Law, Torah, Pentateuchos),
2. NABI-NABI (Prophets, Nebi'im), dan
3. TULISAN-TULISAN (Writings, Ketubim ).

Dalam Nebi'im dan Ketubim, susunan Kitab-kitabnya
berbeda-beda dalam tulisan atau antara para ahli Yahudi;
namun demikian tidak ada kitab yang dipindahkan dari
juz-juznya. Misalnya Kitab-kitab Rut, Nudub Yermia dan
Daniel terdapat di juz Ketubim, dan tidak di juz Nebi'im
seperti halnya dalam saduran-saduran Goyim.

Yang pertama mengatur segala-galanya, jumlah hurufnya dan
seterusnya serta pengumpul semua catatan-catatan yang
dikenal sebagai MASORAH, adalah Yakob ben Haim Ibn Adoniyah,
penerbit dari Kitab Suci Rabbani yang kedua. Kini ada banyak
ulama yang bekerja dalam bidang ini seperti misalnya Wolf
Heidenheim, S. Frensdorff, S. Baer dan C.D. Ginsburg; teks
yang terakhir ini banyak digunakan di Synagoge.

Karena penterjemahnya bukan penyalin suatu teks, maka para
Rabbani menemukan 18 tempat di mana penulis dengan sengaja
merubah teks dengan dalih agar dapat difahami orang.

Orang-orang Yahudi Samaritan hanya menggunakan Torah dan
menolak Nebi'im dan Ketubim. Mereka lebih tekun akan ajaran
Nabi Musa a.s. dalam kepercayaannya dari pada orang-orang
Yahudi yang meninggalkan ajaran-ajaran kuna dari Israel.

Orang-orang Katolik, baik Gereka maupun Romawi, dan para
apostel Hellennist berpegang pada Septuaginta; sedangkan
orang Reformist, yakni Protestan, pada terjemahan yang
dipergunakan di Synagoge Askenazim.