Twitter
RSS

WELCOME

Your PTC

PersianPTC.com

Muhammad Dalam Kitab Suci Agama Dunia 3 (Kesaksian Dari Tuhan)

Dengan kesaksian Tuhan biasanya diartikan dengan kejadian dari Kitab Alam, tenaga selestial luar-biasa dan tanda-tanda langit yang selalu menjadi ciri kebenaran dari orang-orang yang terilham dari Ilahi. Kita temukan di alam semesta ini segala sesuatu itu diperintah oleh suatu hukum yang khusus. Dari atom yang paling kecil hingga orbit yang sangat luar-biasa besarnya, kiranya tak suatu pun di alam ciptaan ini yang bekerja tanpa suatu prinsip: "Tuhan kami ialah Tuhan Yang memberi segala sesuatu sesuai terciptanya, lalu memberi petunjuk" (Quran Suci 20:50).
Hukum Ilahi yang komprehensif menyeluruh ini adalah suatu kesaksian yang kuat atas kebenaran klaim Nabi Suci; karena beliau adalah yang pertama dari semua nabi yang memajukan alasan ini untuk membuktikan universalitas dari wahyu Ilahi, umpamanya, bahwa setiap lembar daun di buku alam dan setiap partikel dari ciptaan semuanya siap memerlukan kebutuhan akan hukum-hukum yang telah ditanamkan oleh Yang Maha-kuasa di dalamnya. Bila Tuhan Yang Maha-bijaksana, Pemelihara alam semesta, telah mengaruniai suatu hukum bahkan kepada atom yang paling kecil, maka manusia, yang adalah karya tangan Tuhan yang terbaik dari kekuasaan-Nya Yang Maha-perkasa, dengan suatu lapangan yang sangat luas untuk tumbuh-kembang di hadapannya, pasti memerlukan petunjuk dan cahaya langit demi pemeliharaan dan kemajuan perkembangannya. Berfirman Yang Maha-kuasa dalam Quran Suci:
"Mahasucikanlah nama Tuhan dikau, Yang Maha-luhur. Yang menciptakan, lalu menyempurnakan, Dan Yang memberi ukuran, lalu memberi petunjuk (mereka kepada tujuannya)" (87:1-3).
Menentukan bahwa seorang manusia itu terbatas dari wahyu Ilahi dan menetapkannya hanya kepada periode atau kaum tertentu, tidak saja menolak asma Tuhan Yang Maha-pengasih, Penyayang dan Maha-murah, melainkan juga merendahkan kebutuhan utama dan inti-sari dari agama. Dia berhenti sebagai kebutuhan yang tak tergantikan yang sangat perlu ditanamkan pada setiap bangsa, atau bila itu rusak karena melapuknya waktu, maka harus dibangkitkan kembali melalui seorang nabi baru yang membuatnya lagi sebagai daya motivasi kehidupan kemanusiaan. Jika segenap bangsa di dunia, kecuali suatu kaum khusus yang disayangi, bisa mengelola hidupnya tanpa agama, dan dapat menghasilkan, tanpa wahyu serta ilham Ilahi contoh keluhuran budi dan kesalehan yang utama sebagaimana ditampakkan suatu waktu dalam pribadi Zarathustra, Buddha atau Ibrahim, dan kadang-kadang dalam pribadi Musa, Krishna atau Yesus Kristus, sesungguhnya agaknya tak ada keadilan dalam memilah suatu kaum atau tempat tertentu yang mendapat hidayat serta perintah khusus dengan melupakan sisa umat manusia selebihnya. Dan jika itu adalah Tuhan Sendiri, Yang dengan hukum pembalasan-Nya, secara tidak perlu menimbulkan perpecahan di kalangan manusia, dengan menunjukkan Cahaya-Nya hanya kepada sedikit orang yang terpilih, dengan mengabaikan sisanya serta mengutuknya ke neraka seolah mereka itu bukan makhluk-Nya, maka Tuhan semacam itu tidak berharga untuk disembah. Dia tak ada bedanya dengan dongeng seorang raja buta dari suatu kerajaan tanpa cahaya di mana Yang menolaknya lebih baik dari pada menerimanya.
Ini adalah suatu subyek yang sangat luas dan luar biasa ekstensif. Semakin lama seseorang merenung akan hal ini, semakin terasa bahwa jelas kebutuhan akan agama hanya timbul dalam keadaan bahwa Islamlah yang hadir. Islam menjaga bahwa para nabi itu dibangkitkan dari masa ke masa di setiap bangsa di dunia, dan Kemurahan dari Tuhan Yang Maha¬penyayang tidak pernah meninggalkan satu pun dari makhluk-Nya dari cahaya dan bimbingan atas Agama Sejati. Juga dia berpegang bahwa agama itu pasti diketemukan di setiap zaman dan iklim sebagai suatu kenyataan yang mapan; pengikutnya harus menganggap penyiarannya sebagai tujuan utama hidupnya. Tak ada suatu pun kekuatan di dunia, betapa pun besarnya; bisa menahan mereka dari cita-cita dakwahnya. Bila tidak maka setiap rahasia dalam penyiaran agama serta bisik rayuan musik di telinganya, kalau diketahui orang lain, bisa mengurangi tujuan utama dari agama.

Comments (0)

Post a Comment